Kebanyakan orang mengatakan penyakit diabetes, jantung, ginjal, stroke atau penyakit medis lainnya tidak boleh dibekam (hijamah). Alasannya beragam. Ada alasan yang ilmiah dan lebih banyak alasan yang ngawur tanpa ilmu.
Padahal sesuai hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, semua penyakit bisa diobati dengan hijamah (bekam) dan ruqyah (bacaan Al Quran atau doa-doa). Hanya saja setiap pelaksanaan dan teknisnya saja yang berbeda-beda.
Bekam Batam Ruqyah Batam Bengkel Manusia Indonesia yang berkonsentrasi pada pengobatan diabetes, jantung, atau ginjal. Di tempat ini sudah banyak diobati pasien dengan kondisi seperti itu dan hasilnya sembuh.
Salah satunya pendapat orang tanpa ilmu (gobok) yang memprovokasi bahwa membekam pasien diabetes akan terjadi perlukaan di kulit. Sehingga bekas luka sulit sembuh dan justru mengakibatkan lukanya semakin membusuk.
Pendapat bodoh seperti ini karena hanya katanya, asumsi belaka, dan memungkiri hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Justru dengan dibekam secara berturut-turut, kadar gula darah pasien diabetes cepat menurun drastis.
Candra P. Pusponegoro, seorang ahli dan pakar bekam dan ruqyah Bengkel Manusia Indonesia mengatakan bahwa sebelum dibekam, pasien diabetes diminta tes gula darahnya. Setelah dibekam juga dites kembali, hasilnya gula darah menurun sangat signifikan.
"Pengobatan bekam ini ada hadis shahih dari Rasulullah. Yakin tidak yakin kita harus yakin. Ada kaidah yang bisa ditelaah dan hanya bisa diimani," ujar Candra P. Pusponegoro.
Dalam pembahasan ini, iman (keyakinan) adalah kunci pertama seorang muslim. Dalam hadis disebutkan;
الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ
“Kesembuhan bisa diperoleh dengan tiga cara, minum madu, sayatan pisau bekam (hijamah), dan sundutan api. Namun aku (Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) melarang umatku berobat dengan sundutan api” (HR. Muslim)
Tentu saja dengan dalil seperti ini kita harus meyakini apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah benar dan kemutlakan.
Demikian juga contoh lain mengenai siksa (alam) kubur, dosa, pahala, surga atau neraka, malaikat, dajjal, kiamat, jin, atau hal gaib selainnya. Tentu saja hal ini sudah dijelaskan secara gamblang di dalam Al Qur'an dan hadis.
Sehingga kita tidak perlu meminta contoh nyata di mana lokasi surga atau neraka, siksa kubur, malaikat, jin atau hal-hal gaib lainnya. Semuanya hanya perlu diyakini dengan keimanan yang benar.
Ada pun penelitian mengenai hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengenai keajaiban pengobatan bekam, dari hasil penelitian manusia itu hanya sedikit yang bisa ditelaah oleh akal manusia.
Kita harus menyadari bahwa akal memiliki keterbatasan. Sedangkan hasil kemujaraban bekam yang lebih menakjubkan masih disimpan oleh Allah. Sehingga kita tidak perlu harus bertanya bertele-tele apa benar bekam itu menyembuhkan.
Coba kita sedikit membuka cakrawala, beberapa penelitian menjelaskan bahwa rasa sedikit sakit saat dibekam akan merangsang lepasnya neurotransmiter seperti opioid endogen.
Zat ini termasuk β-endorphin yang dapat menekan sinyal rasa sakit di sumsum tulang belakang. Mekanisme lain yang mungkin dapat menjelaskan efek analgesik bekam adalah stimulasi sensorik yang kuat.
Sehingga menghasilkan penurunan rasa sakit selama periode waktu yang bervariasi. Hal ini karena pemblokiran pesan dari saraf sensorik yang membawa impuls nyeri.
Saat darah keluar karena torehan bekam 0,09 mm dan tekanan akan menimbulkan efek pembengkakan pada kulit yang dihisap sehingga menyebabkan pelepasan β-endorphin serta hormon adrencorticalke dalam sirkulasi.
Keduanya sangat membantu dalam menghambat peradangan pada radang sendi. Kesimpulannya, bekam memiliki beberapa kelebihan. Yakni adanya tanda perbaikan pada kondisi klinis pasien.
Terutama pada skala nyeri, terapi bekam secara signifikan mengurangi aktifitas penyakit. Selain itu, bekam dapat dikombinasikan dengan terapi konvensional pada pasien yang menderita diabetes mellitus, ginjal, jantung, rheumotoid arthritis, atau selainnya.
Pengeluaran darah dengan metode goresan atau torehan dapat menyebabkan hiperglomerulus (over fungsi pada ginjal), iskemia glomerular (kematian sel pada ginjal), glomerulosklerosis, cedera tubulointerstitial, dan proteinuria (keluar protein pada air seni).
Oleh karena itu bekam dapat meningkatkan produksi nitrat oksid sehingga dapat disimpulkan bahwa saat dilakukan pengeluaran oksidan akan keluar zat-zat tersebut. Kondisi itu akan menyebabkan relaksasi dan vasodilatasi kapiler pada pembuluh darah.
Sehingga menurunkan tahanan dari pembuluh darah yang akan berdampak pada menurunnya tekanan darah. Saat dilakukan penghisapan, saraf-saraf pada kulit akan terangsang.
Rangsangan ini akan dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui syaraf A delta dan C, serta traktus spino thalamikus ke arah thalamus yang akan menghasilkan endorphin.
Endorphin adalah peptida kecil yang dilepaskan ke hipotalamus yang akan berdampak memperbaiki suasana hati dan meningkatkan perasaan tenang.
Dengan suasana hati yang senang dan tenang, maka dengan sendirinya tubuh akan merasakan rileks dan denyut jantung akan berangsur-angsur menurun.
Dengan menurunya denyut jantung, maka cardiac output akan ikut turun. Salah satu hal yang memengaruhi tekanan darah adalah curah jantung (cardiac output).
Karenanya, dapat disimpulkan bahwa dengan penurunan cardiac output tekanan darah pun juga akan ikut turun. Darah yang keluar saat dilakukan bekam memiliki viskositas yang tinggi (kental).
Hal ini disebabkan darah yang keluar dari bekam mengandung lipoprotein jauh melebihi angka normal. Bekam bisa mengeluarkan bahan hidrofilik dan hidrofobik dalam bentuk lipoprotein.
Tingginya level lipoprotein yang buruk dapat mengakibatkan kerusakan, karena fisiologis dalam sel tidak dapat berjalan optimal. Bahkan, sel bisa saja tidak dapat berfungsi.
Lipoprotein dibawa melalui aliran darah dalam dua komponen protein, yaitu lipoprotein berdensitas rendah (LDL) dan lipoprotein berdensitas tinggi (HDL). Ukuran LDL lebih besar dari pada HDL. Hal ini memungkinkan LDL lebih mudah tersangkut di pembuluh darah.
Penjelasan di atas ini hanya hamparan kecil dari sebuah penelitian. Tetapi keberkahan (berkah) itu tidak ada tolok ukurnya. Hanya Allah saja yang tahu keberkahan itu sendiri.
Orang sakit yang dibekam secara kontinyu lalu sembuh, yang menjadi penyembuh adalah Allah. Allah memberikan keberkahan kepada pasien dan yang mengobatinya.
Salah satu contoh keberkahan itu adalah nikmat yang direspon tubuh. Berkah bisa jadi sembuh atau sehat dari sakit. Nah, tolok ukur berkah ini tidak ada parameternya. Sehingga jika Anda sembuh karena dibekam karena keberkahan dari Allah yang hanya sepersekian nano diberikan oleh-Nya.